Thales, Matematikawan
Yunani Kuno
Matematika
Yunani merujuk pada matematika yang dituliskan dalam bahasa Yunani antara abad ke-6 SM sampai abad ke-5 . Matematikawan Yunani tinggal di kota-kota
sepanjang Mediterania bagian timur, dari Italia hingga ke Afrika Utara, tetapi
mereka dibersatukan oleh budaya dan bahasa yang sama.
Semua naskah
matematika pra-Yunani yang masih terpelihara menunjukkan penggunaan penalaran
induktif, yakni pengamatan yang berulang-ulang yang digunakan untuk mendirikan
aturan praktis. Sebaliknya, matematikawan Yunani menggunakan penalaran
deduktif. Bangsa Yunani menggunakan logika untuk menurunkan simpulan dari
definisi dan aksioma, dan menggunakan kekakuan matematika untuk membuktikannya.
Seperti halnya
di Mesir dan Mesopotamia, bangsa Yunani pun mengembangkan sistem numerasinya
sendiri. Sistem numerasi yang digunakan bangsa Yunani ada dua macam, yaitu attic dan ionia. Sistem numerasi attic
dilambangkan sederhana, dengan angka satu sampai angka empat dilambangkan
dengan lambang tongkat. Untuk sistem numerasi ionia, yang digunakan setelah sistem numerasi attic, dipakai pada awal abad ke 8 SM.
Thales
adalah seorang ahli filsafat dan sebagai salah satu pelopor
filsafat Yunani. Pada zaman dulu
seorang ahli filsafat mempelajari matematika, astronomi, fisika dan ilmu
pengetahuan alam. Thales lahir antara tahun 624–625
SM dan meninggal sekitar tahun 547–546 SM. Thales dilahirkan dan
wafat di kota yang sama yaitu kota Miletus. Posisi kota ini berada di
semenanjung pantai bagian barat Asia. Kota tersebut menjadi sebuah pusat transaksi perdagangan penting
pada saat itu. Kapal para saudagar dari Mesir, jalur darat perdagangan menuju
Babylon akan transit pada kota Miletus ini. Perdagangan orang
orang Miletus lebih banyak terjadi dengan penduduk Phoenisia.
Di kota ini juga
merupakan tempat pertemuan dunia Timur dan Barat, sehingga memungkinkan
orang-orang yang saling bertemu tersebut untuk mengisi waktu dengan berdiskusi,
bertukar pandang dan pikiran, serta berpikir tentang segala sesuatu. Hal itu merupakan awal dari kegiatan berfilsafat
sehingga tidak mengherankan bahwa para filsuf Yunani pertama lahir di tempat
ini. Thales adalah seorang saudagar yang sering berlayar ke Mesir. Di Mesir,
Thales belajar dan mempelajari ilmu ukur dan membawanya ke Yunani.
Thales merupakan
perintis matematika dan filsafat Yunani, beliau adalah seorang filsuf yang
mengawali sejarah filsafat Barat pada abad ke-6 SM. Thales mendapat gelar
“Bapak Filsafat” karena dia adalah orang yang mula-mula berfilsafat. Sebelum
Thales, pemikiran Yunani dikuasai dengan cara berfikir mitologis dalam
menjelaskan segala sesuatu. Pemikiran Thales dianggap sebagai kegiatan
berfilsafat pertama karena mencoba menjelaskan dunia dan segala gejala-gejala
yang ada di dalamnya tidak bersandar pada mitos melainkan pada rasio manusia.
Thales mengajukan pertanyaan yang amat mendasar, yaitu “Apa sebenarnya bahan
alam semesta ini?” dan ia sendiri menjawab air. Karena pertanyaannya itulah
yang mengangkat Thales menjadi filosof pertama di dunia. Sehingga Ia juga dikenal sebagai salah seorang dari Tujuh
Orang Bijaksana (dalam bahasa Yunani hoi
hepta sophoi), yang oleh Aristoteles diberi gelar
'filsuf yang pertama'. Selain sebagai filsuf , Thales juga dikenal
sebagai ahli matematika, geometri, astronomi, ilmu pengetahuan alam dan politik.
Thales adalah
seorang saudagar, profesi inilah yang membuatnya sering melakukan perjalanan.
Dan dia sering berlayar ke Mesir. Di Mesir inilah, dalam waktu senggangnya
Thales mempelajari astronomi dan geometri. Dia mempelajari ilmu ukur dan
membawanya ke Yunani kembali. Thales dapat mengukur piramida dari bayangannya
saja. Selain itu, ia dapat mengukur jauhnya kapal di laut dari tepi pantai. Ia juga mempunyai teori tentang
banjir tahunan sungai Nil di Mesir. Kemudian
Thales menjadi terkenal setelah berhasil memprediksi terjadinya gerhana
matahari pada tanggal 28 Mei tahun 585 SM. Thales dapat melakukan prediksi
tersebut karena ia mempelajari catatan-catatan astronomis yang tersimpan di
Babilonia, sejak tahun 747 SM.
Penemuan Thales
dalam matematika yang menggunakan geometri untuk memecahkan masalah, seperti
menghitung ketinggian piramida dan jarak kapal dari tepi pantai sehingga
membuat dia sebagai matematikawan sejati pertama. Thales juga orang pertama
yang mempelajari listrik. Namun tulisan Thales dalam bidang astronomi lebih
dikenal dari pada karyanya dalam bidang geometri.
Thales mendirikan
sekolah filsafat Ionia di Miletus, dan memiliki banyak murid. Anaximander,
Anaximenes, Mamercus dan Mandryatus adalah nama dari beberapa muridnya. Bersama dengan Anaximander dan Anaximenes, Thales
digolongkan ke dalam Mazhab Miletos. Namun murid yang sangat terkenal
adalah nama Anaximander (611-546), yang sukses menggantikan posisi Thales di
Miletus. Dalam bidang politik, Thales pernah menjadi penasihat militer dan
tehnik dari Raja Krosus di Lidya. Selain itu dia juga pernah menjadi penasihat
politik bagi dua belas kota Iona. Penyebab kematian Thales belum diketahui
secara pasti, dia meninggal sekitar tahun 547-546 SM di Miletus.
Thales
tidak meninggalkan bukti-bukti tertulis mengenai pemikiran filsafatnya.
Pemikiran Thales terutama didapatkan melalui tulisan Aristoteles tentang
dirinya. Aristoteles mengatakan bahwa Thales adalah orang yang pertama kali
memikirkan tentang asal mula
terjadinya alam semesta. Karena itulah, Thales juga dianggap sebagai perintis
filsafat alam (natural philosophy).
Kehidupan
Thales
Tentang kehidupan
pribadi Thales, orang tua Thales adalah Examyes dan Cleobuline. Keluarganya
memiliki hubungan keluarga kerajaan Phoenicia. Keluarga Thales memiliki
hubungan dengan Cadmus pangeran Fenisia. Tentang pernikahannya Diogenes
mengatakan Thales menikah dan memiliki seorang putra bernama Cybisthus atau
Cybisthon tapi dari sumber lain menyebutkan bahwa Thales mengadopsi
keponakannya dengan nama yang sama yaitu Cybisthus atau Cybisthon.
Thales dewasa tumbuh dan berkembang di kota transit, sehingga menjadikan
Thales berprofesi sebagai pedagang.
Dengan pekerjaan berdagang secara tidak langsung akan membuat Thales lebih
sering melakukan perjalanan dari Mesir
ke Babylonia juga sebaliknya. Di sela kesibukan berdagang dia salah seorang
sosok berkeinginan memiliki pengetahuan yang luas. Waktu luang sering dipakai
untuk mempelajari ilmu astronomi dan geometri.
Ini disebabkan karena keinginan serta kebutuhan akan menggunakan ilmu tersebut
sehingga mampu meramalkan cuaca, iklim bahkan gerhana yang akan terjadi untuk
mendukung perjalanan bisnisnya.
Kemampuan
Matematika Thales
Dalam matematika Thales dikenal memperkenalkan beberapa teorema yang kita
gunakan hingga saat ini. Teorema
pertama yaitu, jika lingkaran di
bagi oleh sebuah garis dan garis tersebut melewati pusat lingkaran maka garis
tersebut akan memotong lingkaran di dua titik. Jarak antara titik potong
tersebut yang dikenal dengan istilah diameter
lingkaran. Teorema kedua yang dikemukakan oleh Thales masih terkait
geometri. Bunyi teoremanya adalah sudut yang
berada pada alas sebuah segitiga sama kaki bernilai
sama. Teorema berikutnya lagi adalah sudut vertikal yang terbentuk dari perpotongan dua garis sejajar
dengan satu garis pemotong sama besar. Ini disebut dengan sudut yang sehadap dalam ilmu
sekarang.
Teorema lainnya yang diperkenalkan Thales tentang hubungan dua segitiga. Bila saja
dua buah segitiga memiliki sepasang sudut dan sepasang sisi yang melewati sudut
tersebut sama, maka dua buah segitiga tersebut disebut segitiga
sebangun. Dalam aplikasinya, Thales mengaplikasikan ilmu geometrinya
pada suatu segitiga untuk mengukur
jarak suatu kapal. Syaratnya harus diketahui alas segitiga dan salah
satu sudut pada segitiga tersebut.
Secara nyata memang tak ditemukan catatan otentik akan penemuan dan teorema yang ditemukan oleh Thales. Namun dengan mengacu pada catatan para murid beliau, Aristoteles, Eudemus terlihat beberapa hal yang pernah dikemukakan oleh Thales. Sebagai contoh dalam sebuah tulisan Eudemus tertulis bahwasanya Thales merupakan orang yang menjadi pelopor mengubah geometri menjadi terstruktur dan bisa diajarkan dan dipelajari oleh siapa pun. Hal ini didasarkan pada prinsip investigasi dan prinsip observasi yang dilakukan Thales. Beberapa kajian Thales banyak mengungkap teorema geometris dalam bentuk seperti garis, lingkaran, segitiga dan bangun geometri bentuk lainnya dengan prinsip abstrak. Dalam kata sederhananya suatu bentuk garis bukan berarti harus terlihat yang ada di terukir saja. Namun bisa dipetakan dalam bayangan di pikiran masing masing. Semua orang akan bisa berimajinasi bagaimana bentuk sebuah lingkaran jika disuruh membayangkan secara abstrak sebuah lingkaran.
Secara nyata memang tak ditemukan catatan otentik akan penemuan dan teorema yang ditemukan oleh Thales. Namun dengan mengacu pada catatan para murid beliau, Aristoteles, Eudemus terlihat beberapa hal yang pernah dikemukakan oleh Thales. Sebagai contoh dalam sebuah tulisan Eudemus tertulis bahwasanya Thales merupakan orang yang menjadi pelopor mengubah geometri menjadi terstruktur dan bisa diajarkan dan dipelajari oleh siapa pun. Hal ini didasarkan pada prinsip investigasi dan prinsip observasi yang dilakukan Thales. Beberapa kajian Thales banyak mengungkap teorema geometris dalam bentuk seperti garis, lingkaran, segitiga dan bangun geometri bentuk lainnya dengan prinsip abstrak. Dalam kata sederhananya suatu bentuk garis bukan berarti harus terlihat yang ada di terukir saja. Namun bisa dipetakan dalam bayangan di pikiran masing masing. Semua orang akan bisa berimajinasi bagaimana bentuk sebuah lingkaran jika disuruh membayangkan secara abstrak sebuah lingkaran.
Jika Thales hidup pada zaman
matematika modern, maka Thales pantas disebut bapak matematika terapan. Berbagai
kemampuan telah diperlihatkan Thales dalam pengunaan
prinsip matematika. Prinsip pengukuran benda yang besar dengan
memanfaatkan perbandingan
kesebangunan telah diterapkannya sebelumnya. Contohnya ketika
mengukur sebuah piramida yang sangat besar maka Thales cukup dengan menggunakan
sebilah tongkat kayu. Dengan prinsip
kesebangunan maka tongkat tersebut di tancapkan pada tanah,
pengukuran selanjutnya adalah dengan mengukur bayang bayang tongkat pada tanah,
kemudian dibandingkan dengan panjang tongkat aslinya. Begitu juga dengan
piramida, diukur bayangan piramida. Karena perbandingan tersebut konstan dan
memanfaatkan sedikit hitungan maka bisa diketahui tinggi piramida tersebut
tanpa harus memanjat piramida yang tinggi dan mengukurnya.
Dengan kejeniusan Thales, pada zaman sekarang materi tersebut terlihat
mudah sehingga anak Sekolah Dasar pun mampu memecahkan masalah tersebut. Namun,
tidak dapat dipungkiri bahwa ide tersebut berasal dari seorang matematikawan
zaman dahulu yaitu Thales yang giat mengisi waktu luangnya dengan melakukan
ilmu matematika. Tanpa peran Thales makan tidak akan mengetahui ide seperti
itu. Melalui materi kesebangunan maka dapat dihitung ukuran panjang yang ingin
dicari. Dengan syarat dua buah bangun dengan panjang sisi yang bersesuian
memiliki perbandingan yang senilai dan sudut yang bersesuaian sama besar maka
dapat disimpulkan bahwa dua bangun tersebut sebangun.
Aplikasi matematika lainnya dari
Thales tentang penentuan gerhana matahari dengan memanfaatkan prinsip
perhitungan hari dalam satu tahun. Contoh lain kebesaran pemikiran yang
dimilikinya adalah ketika mengukur
jarak suatu kapal dari tepi pantai. Penggunaan
konsep sudut dan segitiga menjadi sarana untuk mengukur kejauhan posisi
suatu kapal yang berlayar. Prinsip ini masih diterapkan dalam ilmu navigasi dan
kelautan. Hanya saja dengan penggunaan alat yang lebih modern. Namun, awal mula
ilmu tersebut tidak dapat diketahui ilmuwan zaman sekarang tanpa ide cemerlang
dari seorang Thales.
Puncak popularitas kemampuan yang dimilikinya membawa beberapa orang yang
nantinya juga terkenal menjadi murid beliau. Yaitu Anaximander, Anaximenes,
Mamercus dan Mandryaus. Bahkan muridnya Anaximander dikenal sebagai generasi
kedua yang memiliki kecerdasan serupa Thales. Hal ini berkat pengajaran yang
diberikan Thales.
Kisah unik
Perjalanan Hidup Thales
Thales
menjalani bagian pertama hidupnya sebagai seorang saudagar yang cukup kaya,
namun Ia mencurahkan masa hidupnya untuk belajar dan melakukan banyak
perjalanan. Menurut beberapa sumber, Thales pernah tinggal beberapa waktu di
Mesir dan menimbulkan kekaguman karena menghitung tinggi piramida dengan
menggunakan bayangan piramida tersebut. Sekembalinya dari Miletus, Ia terkenal
sebagai negarawan, penasehat, insinyur, usahawan, matematikawan, dan ahli
perbintangan karena kejeniusannya tersebut. Thales adalah orang pertama yang
dihubung-hubungkan dengan penemuan-penemuan matematika. dalam bidang geometri,
Ia mendapat penghargaan atas hasil-hasil elementernya.
Sebagai seorang pedagang Thales dikenal sebagai pedangang yang cerdik.
Ketika panen besar zaitun, maka dia memiliki gagasan untuk memeras minyak zaitun tersebut (olive oil). Hasil panen yang melimpah ruah bisa
disimpan untuk sementara waktu. Akhirnya masa panen habis dia bisa menjual
hasil perahan minyak tersebut dengan harga yang mahal. Kesuksesan ini
mendapatkan sebuah keberhasilan yang luar biasa dalam kemampuannya di bidang
perdagangan. Ia juga mendapatkan monopoli untuk
semua alat pemeras minyak dari daerah besar, kemudian menyewakan alat-alat
tersebut. Ada pula sebuah kisah tentang keledai yang keras kepala. Ketika
mengangkut garam, keledai itu mengetahui bahwa bergulung-gulung di sungai dapat
melarutkan garam yang dibawanya dengan demikian beban yang dipikulnya menjadi
lebih ringan, Thales mengatasi kebiasaan keledai tersebut dengan menambah
muatannya dengan spons sehingga ketika bergulung-gulung disungai, keledai
mendapati beban yang tidak lebih ringan justru lebih berat.
Sebagai seorang yang cerdas dan dihormati. Thales pernah ditantang
menyelesaikan suatu masalah dari Raja Croesus. Kala itu sistem kerajaan masih
berkeinginan memperluas daerah kekuasaan. Dalam hal ini, ketika dalam suatu
perperangan raja Croesus mengalami kendala untuk menyeberangi sebuah sungai.
Sang raja memerintahkan Thales mencari
solusi bagaimana tentara bisa menyebrang sungai tersebut. Akhirnya
dengan pikiran cerdasnya, Thales mendapatkan ide, Thales meminta pasukan
membuat suatu danau kecil dan mengalihkan aliran air sungai ke sana sementara.
Akhirnya tentara bisa menyeberangi sungai tersebut.
Namun dibalik semua
kecerdasan Thales, dia juga memiliki sikap ceroboh. Dalam sebuah anekdot diceritakan bahwasanya karena sangat menyukai
ilmu astronomi, pada suatu malam Thales terjatuh dalam sebuah selokan. Hal ini
disebabkan karena dia terlalu sibuk memperhatikan bintang di langit. Tiba tiba
seorang wanita tua berkata kepadanya “Bagaimana bisa tuan menjelaskan semua
yang ada di langit, sementara selokan di hadapan tuan sendiri tuan tidak
melihatnya.” Sebuah sindiran dan anekdote yang memberikan pelajaran berharga.
Pemikiran Thales
Air sebagai
Prinsip Dasar Segala Sesuatu
Thales menyatakan bahwa air adalah prinsip dasar (dalam
bahasa Yunani arche) segala sesuatu.
Air menjadi pangkal, pokok, dan dasar dari segala-galanya yang ada di alam
semesta. Berkat kekuatan dan daya kreatifnya sendiri, tanpa ada sebab-sebab di
luar dirinya, air mampu tampil dalam segala bentuk, bersifat mantap, dan tak
terbinasakan. Argumentasi Thales terhadap pandangan tersebut adalah bagaimana
bahan makanan semua makhluk hidup mengandung air dan bagaimana semua makhluk
hidup juga memerlukan air untuk hidup. Selain itu, air adalah zat yang dapat
berubah-ubah bentuk (padat, cair, dan gas) tanpa menjadi berkurang.
Selain itu, ia juga mengemukakan pandangan bahwa bumi
terletak di atas air. Bumi dipandang sebagai bahan yang satu kali keluar dari
laut dan kemudian terapung-apung di atasnya.
Pandangan tentang Jiwa
Thales berpendapat bahwa segala sesuatu di jagat raya
memiliki jiwa. Jiwa tidak hanya terdapat di dalam benda hidup tetapi juga benda
mati. Teori tentang materi yang berjiwa ini disebut hylezoisme. Argumentasi Thales didasarkan pada magnet yang
dikatakan memiliki jiwa karena mampu menggerakkan besi.
Teorema Thales
Di dalam geometri, Thales dikenal karena menyumbangkan apa
yang disebut teorema Thales, kendati belum tentu seluruhnya merupakan buah
pikiran aslinya. Teorema Thales berisi sebagai berikut:
“Jika AC adalah sebuah diameter, maka sudut B adalah selalu
sudut siku-siku.”
Bukti:
Buat ruas garis OB sehingga terdapat
dua buah segitiga yaitu segitiga AOB dan segitiga BOC. Ruas garis OA, OB dan OC
berturut-turut adalah jari-jari lingkaran. Untuk segitiga AOB jika <OAB = β maka <OBA = β (segitiga samakaki), dan misalkan <AOB = γ, sedangkan untuk segitiga BOC, jika <OBC = α maka <BCO = α (segitiga samakaki), dan misalkan <BOC = θ.
Sehingga diperoleh :
2α + γ = 180° ....(1)
2β + θ = 180° ....(2)
Kemudian jumlahkan persamaan (1) dan
persamaan (2) maka akan diperoleh :
2α + 2β + (θ + γ) = 360° dengan θ + γ = 180° .
Sehingga diperoleh 2α + 2β = 180° → α
+ β = 90° .
Sudut α+β adalah <OBC + <OBA =
<ABC. Jadi terbukti jika AC adalah sebuah
diameter, maka sudut B adalah selalu sudut siku-siku.
Teorema Thales yang lain adalah:
1.
Sebuah lingkaran terbagi dua sama besar oleh garis
tengah yang dinamakan diameter.
2.
Sudut-sudut bagian alas dari sebuah segitiga samakaki
adalah sama besar.
3.
Jika ada dua garis lurus yang bersilangan, maka besar
kedua sudut yang saling bertolak belakang akan sama.
4.
Sudut yang terdapat di dalam setengah lingkaran adalah
sudut siku-siku.
5.
Sebuah segitiga terbentuk bila bagian dasarnya serta
sudut-sudut yang bersinggungan dengan bagian dasar tersebut telah ditentukan.
Pandangan Politik
Berdasarkan catatan Herodotus, Thales pernah memberikan
nasihat kepada orang-orang Ionia yang sedang terancam oleh serangan dari
Kerajaan Persia pada pertengahan abad ke-6 SM. Thales menyarankan orang-orang
Ionia untuk membentuk pusat pemerintahan dan administrasi bersama di kota Teos
yang memiliki posisi sentral di seluruh Ionia. Di dalam sistem tersebut,
kota-kota lain di Ionia dapat dianggap seperti distrik dari keseluruhan sistem
pemerintahan Ionia. Dengan demikian, Ionia telah menjadi sebuah polis yang
bersatu dan tersentralisasi.
Tokoh Thales
memberikan banyak inspirasi dan motivasi karena pemikiran dan juga ide kreatifnya.
Sebagai generasi penerus harus berterimakasih atas ilmu yang dikemukakan oleh
Thales sebab hingga saat ini ilmu tersebut sangat bermanfaat walaupun tokohnya
telah lama tiada. Selain itu, Thales juga dapat dapat dijadikan contoh untuk
generasi penerus karena meskipun pemikirannya hanya bersumber pada akal dan
alam semesta tapi pada kenyataannya mampu mempengaruhi ilmu di seluruh dunia. Hal
menarik lain dari Thales adalah keinginannya untuk lepas dari kungkungan mitos
dan kebenaran dogmatif. Oleh karena itu, marilah sebagai generasi penerus
bangsa mengambil ilmu dan hikmah dari Thales dan ilmuwan yang lain terutama di
bidang matematika supaya mampu memberikan ilmu dan kebermanfaatan bagi orang
lain dan masa yang akan datang.
Sumber-sumber:
Boyer, Carl B.; Merzbach, Uta C. (1991), A History of Mathematics (Second Edition ed.), John Wiley & Sons, Inc.
Burhanuddin, Afid.
2013. Thales Tokoh Filsafat Yunani Kuno. https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/09/21/thales-tokoh-filsafat-yunani-kuno/
Fathurrohman, Mohamad Nurdin. 2014. Biografi
Thales, Filsuf dari Miletos. https://biografi-tokoh-ternama.blogspot.co.id/2014/09/biografi-thales-filsuf-dari-miletos.html
Fathurrohman, Mohamad Nurdin. 2014. Thales,
Filsuf dan Matematikawan Yunani Kuno. https://blogpenemu.blogspot.co.id/2014/09/thales-filsuf-dan-matematikawan-yunani.html
Gusmiyanti, Raesya. 2012. Biografi
Ilmuwan Matematika. http://raesyagusmiyanti.blogspot.co.id/2012/02/biografi-ilmuan-matematika.html
Hendroanto, Aan. 2012. Sejarah Thales
Lahirnya Matematika. http://aanhendroanto.blogspot.co.id/2012/07/sejarah-thales-lahirnya-matematika.html
The History of Mathematics. 2006.
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam: Universitas Negeri Yogyakarta.
Wikipedia. Insikopedia Bebas. 2016. Matematika Yunani. https://id.wikipedia.org/wiki/Matematika_Yunani
Yunanda,
Martha. 2015. Biografi Thales. http://sejarahmatematika1.blogspot.co.id/2015/04/biografi-thales.html
